Minggu, 12 Juli 2009

INSECT



“hai... ada manusia...” teriak mimi seekor semut perempuan yang masih kecil ketakutan.

“Sudah jangan lari teriak pompom semut muda yang mulai akil balik pada semut cewek temannya.

“ Sekarang aku akan mengajak mu menemui pamanku beben. Lalu Berjalanlah 2 semut muda itu mnyusuri tanah kering nna tandus mnuju rumah paman pompom di kota.

“Hai pom pom.. siapa ini” sapa paman beben ramah pada kedua semut ingusan itu

“ ini teman q mimi paman, kami ingin bertnya tanya tentang manusia”

“ Manusia “ paman beben tampak sedikit terkejut untuk selanjutnya manggut2..

“ Ayo ikuti paman Beben...”

Lalu kedua semut itu mengikuti langkah paman Beben menuju bukit, Diatas bukit yang penuh bunga itu mereka berhenti. Dari atas situ mereka dapat melihat perkampungan manusia di bawahnya.

“Itulah rupa manusia “ tunjuk paman beben pada seorng lelaki yang tengah berjalan tergesa sambil membuang sampah ke got depan rumahnya...” liat apa yang mereka lakukan, karena itulah kampung itu selalu banjir stiap musim hujan.

LaLu uncle Ben mngajak mereka duduk di atas sepotong daun yang jatuh tepat dibawah pohonnya sehingga suasana sangat rindang. Beberapa detik kemudian uncle ben mulai melanjutkan ceritanya, dua sahabat itu dengan seksama mendengarkan..

“ Manusia dulu guyup rukun seperti bngsa kita.. namun ada 1 benda yang di namakan uang yang mereka buat untuk tukar menukar sehingga mereka tidak lagi rukun, mereka lupa pada sahabat , pada saudara apalagi orang lain karena benda yang di namakan uang itu, ada manusia yang serakah, mengeruk keuntungan diatas penderitaan bngsanya sendiri, sehingga makin terpecah belahlah mereka, harusnya mereka belajar dari budaya kita yaitu gotong royong. Manusia terlalu individu .. terlebih yang hidup di perkotaan.

“ paman paman..” sela Mimi

“ Ya mimi apa yang ingin ku tanyakan nak”

“ Apakah manusia smunya seperti itu?”

“ Tidak nak, ada juga manusia yang baik, yang masih perduli nurani dan penderitaan sesamanya.. tapi jumlahnya makin sedikit, masih kalah dengan yang jahat yang tega makan jatah rakyat dan bangsa nya sendiri” ucap paman Ben sambil menghela nafas dan mengakhiri ceritanya.

Demikianlah mereka berbincang tentang manusia, Mimi tampak masih bingung .. soalnya dia kan memang masih kecil sedang pompom tampak manggut2...hingga sore menjelang merekapun beranjak dari bukit itu

the end...



3 komentar:

Kabasaran Soultan mengatakan...

Nice story ....
harus belajar banyak dari semut nih ...machluk yang namanya manusia.

dewi mengatakan...

makasih bang 4 komennya..

Noor's blog (inside of me) mengatakan...

Coba manusia hidupnya seperti semut ya...Eh..met pagi..!